Ternyata Patah Hati Dapat Merusak Jantung

WowKerenViral ~ Tidak selamanya dalam menjalin hubungan percintaan akan baik-baik saja, terkadang terjadi permasalahan, tidak ada lagi kecocokan dan bahkan terjadi perselingkuhan yang mengakibatkan perpisahan. Dari semua kejadian ini bisa menyebabkan patah hati bahkan sindrom patah hati atau merasakan sesuatu yang menyakitkan dalam hidup.


sindrom patah hati


Kabar buruknya, sindrom patah hati atau tekanan secara emosional yang cukup parah bisa berpotensi serangan penyakit jantung, bisa menimbulkan kerusakan jangka panjang pada jantung, Apakah benar demikian?

Takotsubo cardiomyopathy atau sindrom patah hati dipicu pengalaman traumatis misalnya hubungan dengan pasangan berakhir. Kondisi yang parah jantung menjadi lemah tidak berfungsi optimal.

Berdasarkan penelitian dahulu kerusakan yang terjadi hanya bersifat sementara namun ilmuwan di University of Aberdeen membantah hasil penemuan tersebut. Berdasarkan penemuan mereka bahwa efek patah hati dapat bersifat permanen seperti serangan jantung.

Sesuai studi yang didukung oleh British Heart Foundation (BHF), sebanyak 37 pasien Takostubo selama kurun waktu dua tahun diperiksa tim dokter. Pemeriksaan menggunakan pemindaian ultrasound dan MRI. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa pasien mempunyai kerusakan pada jaringan otot jantung, berkurangnya elastisitas, kerusakan ini agak mustahil untuk diobati.

Profesor Jeremy Pearson, Associate Medical Director BHF mengatakan takotsubo cardiomyopathy atau sindrom patah hati jenis penyakit yang bisa menyerang seseorang dalam kondisi sehat dengan efek merusak. “Kami pernah menduga, dampak dari penyakit yang mengancam jiwa ini sifatnya hanya sementara. Kendati demikian, sekarang kami melihat bahwa efeknya terus berpengaruh kepada seseorang selama sisa hidup mereka," tutur Pearson.

Dilansir dari Male, Profesor Jeremy Pearson menambahkan belum ada perawatan jangka panjang untuk pasien penderita sindrom patah hati. "Penelitian terbaru kami menunjukkan, ada efek jangka panjang pada kesehatan jantung. Hal itu menjadi peringatan bagi kita agar merawat pasien menggunakan cara yang menyerupai pasien dengan risiko mengalami gagal jantung," ujarnya.

Share Artikel